Menu

Mode Gelap
96 Atlet Pelajar Sula Siap Berlaga di POPDA XII Maluku Utara 2026 HUT Bhayangkara ke-80, Polres Sula Tegaskan Komitmen Polri Hadir untuk Masyarakat Polres Sula Gelar Korps Rapor, 45 Personel Naik Pangkat Mantan Bendahara Desa di Kepulauan Sula Diburu Polisi Eks Kades dan Kaur Keuangan di Sula Ditetapkan Tersangka Korupsi ADD-DD Polres Sula Sabet Juara I Satkamling Tingkat Polda Maluku Utara

Ruang Menulis

Tamparan Untuk Diri Sendiri

badge-check


Foto: Rahmat Umarama. (doc: Karikatur) Perbesar

Foto: Rahmat Umarama. (doc: Karikatur)

Oleh: Rahmat Umarama
Mahasiswa Sosiologi FISIP UMMU

Ada sebuah tamparan ringan namun menusuk dalam qalbu, dari sebuah hati keras namun luluh dan tertunduk. Tuhan, Kau berikan hati untuk sabar, bukan membangkang. Hari ini, tepat tanggal 18 November 2025, pukul 13.25 WIT, ada sebuah tulisan yang menampar keras kesadaran saya—sebuah cerita sederhana namun membakar jiwa yang keras akan kesombongan.

Fahri Aufat, mantan Direktur PILAS Institute, berbicara dari hati penuh cinta kesadarannya. Tentang ketakutan akan kesombongan, yang membuat ia khawatir akan diceritakan oleh orang-orang tentang dirinya. Cerita kakak-beradik ini awalnya saya baca dengan cuek, namun hati yang penuh penasaran lalu berkata dalam qalbu, “Ka Fahri, tulisan terbit lagi ee (tulisan Ka Fahri terbit lagi).”

Saya penasaran lalu membaca perlahan sembari mengingat setiap kata yang diucapkan dan begitu menjiwai. Kalimat itu menggambarkan ketakutan seorang adik terhadap keluarga, tentang ego, dan nama baik keluarga yang harus dijaga dengan baik.

Sebuah pesan dari seorang kakak, ungkapnya, “Gelar bukan alasan untuk kamu meninggi.”
“Kak, ketika kakak menulis bahwa satu perubahan kecil bisa membawa bisik-bisik panjang di kampung,” ujarnya kembali.

Pesan sederhana ini mampu menundukkan rasa, seakan membawa kembali ke tempat awal—tempat bermula membersihkan diri.

Saya menunduk sebentar menjeda tulisan ini, menahan sesak napas. Air mata membendung; ketakutan menyelimuti diri. Di balik itu jiwa berbicara dengan raga, “Apa kamu siap mencintai takdirmu (amor fati)?”

Pertanyaan itu menjeda literasiku. Sebuah firman diungkapkan oleh Ka Fahri, seorang senior yang banyak memberi kisah, cinta, dan cerita. Jujur, dia orang yang tak tahu apa itu sombong dan ego, walaupun pernah menjabat sebagai “Direktur Pilas Institute”.

Ramah adalah prinsipnya, berbagi adalah ilmunya. Saya yakin, ilmu yang kau genggam dan kau telan selama ini mampu menundukkan egomu, bahkan menjaga serta melindungi dirimu dari kesombongan hawa nafsu.

Tuhan…

Kau titipkan sebuah kisah cinta dari seorang hamba yang takut akan keserakahan. Kau telah menitipkan kesan sakral dalam sebuah surat sembari Kau berfirman:
“Sesungguhnya Aku (Allah) tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra’d: 11)

Cinta…

Cinta adalah anugerah. Kau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang tak lupa akan nikmat-Mu. Dari satu langkah ke langkah berikutnya, pesan dari Ka Fahri selalu membuka pikiranku—tentang cinta, persahabatan, dan tentang gelar.

Tutur seorang adik yang berdoa dan memohon kepada kakaknya, “Kak, saya tidak ingin menjadi orang yang sombong.” Kalimat penuh rasa, penuh cinta kepada kakak yang memfasilitasi hingga mendapat sebuah gelar besar.

Namun itu bukan soal bagi cinta seorang kakak. Mereka rela apa pun: pergi pagi dengan perut kosong, tapi pulang dengan harapan membawa hasil. Karena rasa cinta kepada adik lebih besar dari ego mereka sendiri.

Terima kasih atas kesan dan cinta. Surat ini akan menjadi bahan evaluasi bagi diri saya ketika salah melangkah. Jujur, pribadi saya sendiri adalah super egoisme. Itulah alasan mengapa membaca satu per satu kata tulisan Ka Fahri, saya menelan dan menyimpannya dalam jiwa.

Saya menangis membaca tulisan tersebut. Bukan hanya karena menjiwai, tetapi karena sedih dengan pertanyaan dan tamparan keras dalam diri ini—kekhawatiran tentang perjalanan ke depan, harapan, dan nama baik orang tua yang harus “dilangitkan”, bukan dibumikan.

Tuhan…

Kesadaran ini belum cukup bagi saya. Kerap gagal dalam bertindak, bahkan lisan ini masih melukai jiwa sesama insan. Tuhan, pelan namun pasti—dengan hati yang tak lagi menyalakan rindu—“luka yang kau rasakan adalah sebuah pesan. Maka dengarkanlah.” (Jalaluddin Rumi)

Penulis adalah Pegiat PILAS Institute*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga :

Sejarah Singkat Desa Paratina (Catatan Singkat Kampung Halaman)

23 Januari 2026 - 15:13 WIT

Sejarah Singkat Desa Paratina (Catatan Singkat Kampung Halaman)

Dari Hati Seorang Adik yang Sedang Belajar Merunduk

17 November 2025 - 23:08 WIT

Dari Hati Seorang Adik yang Sedang Belajar Merunduk

Kerendahan Hati di Puncak Pencapaian

16 November 2025 - 14:16 WIT

Kerendahan Hati di Puncak Pencapaian

Perampasan Hutan, Tanah, dan Laut oleh Bangsa Asing

6 November 2025 - 14:03 WIT

Perampasan Hutan, Tanah, dan Laut oleh Bangsa Asing

“HMJ Sosiologi” Antara Harapan dan Kenyataan

6 November 2025 - 13:18 WIT

“HMJ Sosiologi” Antara Harapan dan Kenyataan

Korban Digitalisasi, Akankah Koran di Ternate Tinggal Sejarah?

13 Oktober 2025 - 17:17 WIT

Korban Digitalisasi, Akankah Koran di Ternate Tinggal Sejarah?

Krisis Ekonomi dan Doktrin Sosial

10 Oktober 2025 - 19:18 WIT

Krisis Ekonomi dan Doktrin Sosial

Caffe dan Jejak Intelektual

10 Oktober 2025 - 15:27 WIT

caffe dan jejak intelektual
Trending di Opini