Oleh: Rahmat Umarama
Mahasiswa Sosiologi FISIP UMMU
Ada sebuah tamparan ringan namun menusuk dalam qalbu, dari sebuah hati keras namun luluh dan tertunduk. Tuhan, Kau berikan hati untuk sabar, bukan membangkang. Hari ini, tepat tanggal 18 November 2025, pukul 13.25 WIT, ada sebuah tulisan yang menampar keras kesadaran saya—sebuah cerita sederhana namun membakar jiwa yang keras akan kesombongan.
Fahri Aufat, mantan Direktur PILAS Institute, berbicara dari hati penuh cinta kesadarannya. Tentang ketakutan akan kesombongan, yang membuat ia khawatir akan diceritakan oleh orang-orang tentang dirinya. Cerita kakak-beradik ini awalnya saya baca dengan cuek, namun hati yang penuh penasaran lalu berkata dalam qalbu, “Ka Fahri, tulisan terbit lagi ee (tulisan Ka Fahri terbit lagi).”
Saya penasaran lalu membaca perlahan sembari mengingat setiap kata yang diucapkan dan begitu menjiwai. Kalimat itu menggambarkan ketakutan seorang adik terhadap keluarga, tentang ego, dan nama baik keluarga yang harus dijaga dengan baik.
Sebuah pesan dari seorang kakak, ungkapnya, “Gelar bukan alasan untuk kamu meninggi.”
“Kak, ketika kakak menulis bahwa satu perubahan kecil bisa membawa bisik-bisik panjang di kampung,” ujarnya kembali.
Pesan sederhana ini mampu menundukkan rasa, seakan membawa kembali ke tempat awal—tempat bermula membersihkan diri.
Saya menunduk sebentar menjeda tulisan ini, menahan sesak napas. Air mata membendung; ketakutan menyelimuti diri. Di balik itu jiwa berbicara dengan raga, “Apa kamu siap mencintai takdirmu (amor fati)?”
Pertanyaan itu menjeda literasiku. Sebuah firman diungkapkan oleh Ka Fahri, seorang senior yang banyak memberi kisah, cinta, dan cerita. Jujur, dia orang yang tak tahu apa itu sombong dan ego, walaupun pernah menjabat sebagai “Direktur Pilas Institute”.
Ramah adalah prinsipnya, berbagi adalah ilmunya. Saya yakin, ilmu yang kau genggam dan kau telan selama ini mampu menundukkan egomu, bahkan menjaga serta melindungi dirimu dari kesombongan hawa nafsu.
Tuhan…
Kau titipkan sebuah kisah cinta dari seorang hamba yang takut akan keserakahan. Kau telah menitipkan kesan sakral dalam sebuah surat sembari Kau berfirman:
“Sesungguhnya Aku (Allah) tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra’d: 11)
Cinta…
Cinta adalah anugerah. Kau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang tak lupa akan nikmat-Mu. Dari satu langkah ke langkah berikutnya, pesan dari Ka Fahri selalu membuka pikiranku—tentang cinta, persahabatan, dan tentang gelar.
Tutur seorang adik yang berdoa dan memohon kepada kakaknya, “Kak, saya tidak ingin menjadi orang yang sombong.” Kalimat penuh rasa, penuh cinta kepada kakak yang memfasilitasi hingga mendapat sebuah gelar besar.
Namun itu bukan soal bagi cinta seorang kakak. Mereka rela apa pun: pergi pagi dengan perut kosong, tapi pulang dengan harapan membawa hasil. Karena rasa cinta kepada adik lebih besar dari ego mereka sendiri.
Terima kasih atas kesan dan cinta. Surat ini akan menjadi bahan evaluasi bagi diri saya ketika salah melangkah. Jujur, pribadi saya sendiri adalah super egoisme. Itulah alasan mengapa membaca satu per satu kata tulisan Ka Fahri, saya menelan dan menyimpannya dalam jiwa.
Saya menangis membaca tulisan tersebut. Bukan hanya karena menjiwai, tetapi karena sedih dengan pertanyaan dan tamparan keras dalam diri ini—kekhawatiran tentang perjalanan ke depan, harapan, dan nama baik orang tua yang harus “dilangitkan”, bukan dibumikan.
Tuhan…
Kesadaran ini belum cukup bagi saya. Kerap gagal dalam bertindak, bahkan lisan ini masih melukai jiwa sesama insan. Tuhan, pelan namun pasti—dengan hati yang tak lagi menyalakan rindu—“luka yang kau rasakan adalah sebuah pesan. Maka dengarkanlah.” (Jalaluddin Rumi)
Penulis adalah Pegiat PILAS Institute*


































