Kak Fari,
Saya membaca tulisan kakak berulang kali. Setiap kali saya sampai di tengah, dada saya terasa sesak; dan setiap kali saya sampai di akhir, saya merasa seperti baru ditarik kembali ke tanah tempat saya seharusnya berdiri. Ada rasa pedih di dalamnya, Kak, tetapi pedih yang justru menyembuhkan. Ada ketegasan, tetapi ketegasan yang terasa seperti tangan kakak menggenggam bahu saya dan berkata, “Jangan tersesat, Dek.”
Kak, tulisan itu mengguncang saya. Bukan karena kata-katanya keras, tetapi karena saya tahu semua itu datang dari cinta yang tidak pernah saya bayar dengan cukup.
Gelar dan Potret Diri yang Kakak Lihat
Kakak bilang bahwa gelar bukan alasan untuk meninggi—dan kalimat itu langsung menusuk saya. Jika kakak sampai menulis begitu panjang, sedalam itu, setajam itu, berarti ada sikap saya yang berubah, meski saya tidak menyadarinya. Dan itu membuat saya malu, Kak. Bukan malu karena ditegur, tetapi karena saya mungkin sudah membuat kakak membaca tanda-tanda yang tidak semestinya muncul dari diri seorang anak yang dibesarkan oleh orang tua kita.
Kak, saya tidak ingin menjadi orang yang sombong. Saya tidak ingin menjadi orang yang membuat kakaknya menggeleng. Saya tidak ingin menjadi orang yang pulang ke kampung lalu membuat orang-orang berbisik karena sikap saya. Saya ingin menjadi adikmu, Kak—adik yang tidak lupa daratan dan tidak lupa budi.
Orang Tua Kita
Bagian tentang orang tua… Kak, jujur, itu bagian yang paling menghantam saya.
Cara kakak menulis tentang pakaian pudar mereka, keringat asin yang menempel sejak fajar, kaki yang berjalan tanpa mengeluh—semuanya membuat saya merasa kecil sekali. Karena saya tidak pernah benar-benar melihat semua itu sejelas cara kakak menggambarkannya. Saya tahu mereka bekerja keras, tetapi kakak membuat saya melihat ulang dengan cara yang lebih jernih, lebih menyakitkan, dan lebih membuat saya sadar diri.
Kak…
Andai mereka tahu bahwa ada sikap saya yang bahkan sedikit mengarah pada kesombongan, saya yakin itu akan menyakiti mereka. Dan itu membuat saya takut—takut melukai orang yang telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk membuat langkah saya menjadi mungkin.
Kak, saya berjanji:
Saya tidak akan membuat mereka menunduk karena kecewa. Kalau mereka menunduk, itu harus hanya karena bangga.
Tentang Ilmu dan Adab
Kak, kutipan-kutipan yang kakak tuliskan bukan hanya teori untuk saya. Entah bagaimana, setiap nama yang kakak sebut seakan sedang bicara langsung kepada saya.
Bahwa ilmu harus merundukkan ego. Kesombongan adalah tanda bahwa ilmu belum benar-benar masuk ke hati. Bahwa ujian sesungguhnya justru datang ketika seseorang diberi peluang untuk meninggi.
Dan saya…
Saya merasa seperti baru saja duduk kembali di bangku pertama untuk belajar menjadi manusia. Bukan belajar teori, bukan belajar rumus, tetapi belajar adab. Kak, terima kasih sudah mengembalikan saya ke jalan yang benar sebelum saya berjalan terlalu jauh.
Tentang Kampung, Penilaian Orang, dan Ketakutan yang Kakak Bangkitkan
Kak, ketika kakak menulis bahwa satu perubahan kecil bisa menjadi bisik-bisik panjang di kampung, saya bisa langsung membayangkannya. Saya tahu betul suasana itu. Saya tahu tatapan orang-orang. Saya tahu cara mereka membaca sikap.
Saya tidak ingin menjadi bahan gelengan kepala. Saya tidak ingin membuat nama keluarga kita dibicarakan karena sikap saya sendiri. Saya tidak ingin kakak merasa harus meminta maaf kepada orang lain karena tingkah adiknya. Saya ingin pulang dengan kepala menunduk, bukan dada membusung. Saya ingin orang-orang berkata, “Ilmunya tinggi, tapi adabnya lebih tinggi.”
Kak… Terima Kasih untuk Tamparan yang Lembut Itu
Kak Fari,
saya tidak marah. Sedikit pun tidak. Justru saya bersyukur punya kakak yang berani menyampaikan apa yang orang lain mungkin hanya bisikkan di belakang saya. Kakak memilih untuk menulis kepada saya dengan jujur—bahkan sangat jujur—karena kakak tidak ingin saya jatuh lebih dalam.
Itu bukan nasihat biasa. Itu adalah cinta dalam bentuk paling dewasa; cinta yang tidak memanjakan, tetapi mendidik.
Dan saya menerimanya, Kak. Dengan hati penuh, bukan separuh.
Penutup dari Seorang Adik yang Sedang Belajar Membetulkan Diri
Kak, saya janji saya akan berubah.
Saya akan merunduk, bukan karena takut, tetapi karena sadar diri.
Saya akan membawa gelar saya bukan sebagai alasan untuk meninggi, tetapi sebagai pengingat untuk menjadi lebih halus dan lebih manusia.
Terima kasih, Kak,
sudah menjaga saya ketika saya mulai berjalan tanpa arah. Terima kasih sudah menjadi suara yang saya butuhkan sebelum dunia bersuara lebih keras. Terima kasih sudah mengingatkan saya sebelum saya kehilangan diri saya sendiri.
Semoga suatu hari nanti kakak bisa melihat saya dan berkata, “Adikku bukan hanya berilmu—tapi juga tahu diri.”
Adikmu,
Fahri Aufat










