banner 728x90
Cerpen

Toga dan Air Mata: Perjuangan yang Tak Pernah Terlihat

Bacarita Diperbarui 12:18 WIT 8 menit membaca
Foto: Prosesi pemindahan tali toga dari kiri ke kanan. (doc: Istimewa)
Ukuran Teks:

Oleh: Safari Naipon

(Cerita tentang perjuangan, air mata, dan cinta sebuah keluarga sederhana)

 

MENTARI pagi terasa berbeda bagi saya di Muara Hotel, Kota Ternate.

Sabtu, 5 September 2026, bukan sekadar hari biasa.

Pagi itu, saya melihat adik keempat saya, Anina Naipon, yang sejak kecil kami panggil Nina, berdiri mengenakan toga. Ia akan mengikuti prosesi wisuda setelah melewati perjalanan panjang yang tidak mudah.

Saya memandanginya dalam diam.

Di balik toga yang dikenakannya, saya melihat begitu banyak cerita. Ada penantian, keterbatasan ekonomi, sakit, kekhawatiran, air mata, doa, dan perjuangan kami sebagai sebuah keluarga.

Namun, untuk memahami mengapa hari itu begitu berarti bagi saya, saya harus kembali ke beberapa tahun sebelumnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 7 Kepulauan Sula, Kecamatan Sulabesi Barat, Nina belum langsung melanjutkan kuliah.

Ia harus menunggu hampir dua tahun.

Bukan karena Nina tidak ingin kuliah. Ia memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Tetapi keadaan keluarga kami saat itu tidak memungkinkan.

Bapak sudah tidak mampu bekerja sekuat dahulu. Adik-adik kami masih bersekolah, ada yang SMA, SMP, bahkan SD.

Saya sendiri sudah menikah. Adik kedua juga sudah menikah, sementara adik ketiga bekerja di sebuah toko di Ternate.

Dalam keadaan seperti itu, biaya kuliah menjadi sesuatu yang harus kami pikirkan dengan sangat hati-hati.

Sambil menunggu, Nina bekerja di sebuah warung di Desa Mangon, tepatnya di Swering.

Sampai suatu hari, Nina mengirim pesan kepada saya melalui WhatsApp.

“Kak, beta (saya) belum bisa mendaftar kuliah?”

Saya membaca pesan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Saya tahu, di balik pertanyaan sederhana itu ada harapan seorang adik yang ingin melanjutkan pendidikan.

Saya kemudian menjawab:

“Nina, nanti kalau sudah cukup uang baru berangkat kuliah.”

Saya dan istri mulai menabung sedikit demi sedikit.

Tidak banyak.

Tetapi kami berusaha.

Ketika Kesempatan Itu Datang

Saya kemudian menghubungi adik saya yang berada di Ternate.

“Ada uang? Kalau ada, kita daftar adik kita, Anina, untuk kuliah.”

Jawabannya:

“Kaka, saya belum ada uang.”

Saya memahami keadaannya.

Kami semua memiliki kebutuhan masing-masing.

Dari kampung, Mama juga sering menelepon dan menanyakan keadaan Nina.

“Fari, Nina belum bisa mendaftar kuliah?”

Saya menjawab:

“Sabar, Ma. Ini kita lagi menabung untuk daftarkan dia.”

Saya juga meminta bantuan kepada adik kedua. Namun, keadaan mereka pun belum memungkinkan.

Sampai akhirnya, kesempatan itu datang.

Ketika ISDIK Kie Raha Maluku Utara membuka pendaftaran mahasiswa baru, saya dan istri memutuskan bahwa Nina harus berangkat.

Saya mengirim pesan kepadanya:

“Kalau bisa, langsung pulang kampung. Kemas barang-barangmu. Persiapan kita berangkat daftarkan kamu kuliah. Nanti Kaka dan Tua juga ke kampung, kita cerita tentang keberangkatan kamu.”

Tua adalah panggilan adik-adik kepada istri saya.

Hari itu, rumah kami dipenuhi perasaan yang bercampur aduk.

Ada kebahagiaan karena Nina akhirnya mendapatkan kesempatan kuliah.

Tetapi ada pula kekhawatiran tentang bagaimana kami akan membiayai perjalanan panjang itu.

Saat berkumpul bersama keluarga di kampung, saya menyampaikan kabar kepada Mama.

“Ma, Nina sudah boleh berangkat mendaftar kuliah.”

Kami kemudian mempersiapkan keberangkatan.

Kami bukan keluarga berada.

Uang yang kami miliki terbatas. Perbekalan pun seadanya.

Tetapi kami tidak ingin keterbatasan menjadi alasan Nina berhenti mengejar cita-citanya.

Sebelum berangkat, saya memberikan satu pesan kepadanya.

Saya berkata:

“Nina, kita orang susah. Sampai di sana kuliah baik-baik. Jaga nama baik keluarga, Jangan lupa pulang bawa ijazah.”

Nina menjawab singkat:

“Iya, Kaka.”

Saya dan istri kemudian mengantar Nina ke Ternate.

Sesampainya di sana, sepupu kami, Fahri, membantu mengantar Nina ke kampus untuk mengurus pendaftaran.

Hari itu, perjalanan Nina sebagai seorang mahasiswa resmi dimulai.

Setelah Nina mulai kuliah, kami membagi tanggung jawab.

Saya berusaha memenuhi kebutuhan makanan dan minumannya.

Adik kami yang lain berusaha memikirkan biaya kos dan semester.

Sementara adik kedua bersama istrinya juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka sendiri.

Kami tidak memiliki banyak uang.

Tetapi kami memiliki satu tekad:

Nina harus menyelesaikan kuliahnya.

Perjalanan itu tentu tidak selalu berjalan mulus.

Ada masa ketika kebutuhan kuliah semakin banyak. Ada biaya kos, uang semester, kebutuhan sehari-hari, hingga berbagai keperluan akademik.

Kami harus saling membantu semampu kami.

Di tengah perjalanan kuliahnya, Nina jatuh sakit di Ternate.

Kabar itu membuat saya sangat khawatir.

Malam itu, saya tidak bisa tidur sampai pagi.

Pikiran saya terus tertuju kepada Nina.

Saya membayangkan bagaimana keadaannya di Ternate, sementara kami berada di Sanana.

Akhirnya, saya meminta istri saya pergi ke Ternate untuk menjemput Nina dan membawanya pulang ke Sanana.

Namun, saya sengaja tidak memberitahukan kepada Mama dan Bapak bahwa Nina sedang sakit.

Saya tidak ingin mereka terlalu khawatir.

Mereka berada jauh di kampung dan dalam kondisi ekonomi yang juga terbatas. Saya takut jika mengetahui Nina sakit, pikiran mereka semakin terbebani.

Saya memilih menyimpan kekhawatiran itu sendiri.

Setelah Nina tiba di Sanana, barulah saya memberitahukan keadaan sebenarnya kepada Mama dan Bapak.

Syukurlah, kondisi Nina perlahan membaik.

Saat itu, adik saya yang kedua juga belum diterima bekerja di perusahaan tambang. Artinya, perjuangan untuk memenuhi kebutuhan kuliah Nina masih menjadi beban yang harus kami pikul bersama.

Setelah kondisi Nina membaik dan ia bersiap untuk kembali ke Ternate melanjutkan kuliahnya, masalah lain datang.

Bapak jatuh sakit.

Tekanan darahnya tinggi.

Kabar itu membuat hati saya semakin berat.

Saya seperti tidak punya waktu untuk benar-benar menarik napas.

Baru saja memikirkan kesehatan Nina, sekarang harus memikirkan Bapak.

Saya ingin menangis.

Sebagai anak tertua, saya merasa harus tetap kuat.

Saya harus menjadi tempat adik-adik berharap. Saya harus berusaha membuat Mama dan Bapak merasa tenang.

Padahal, jauh di dalam hati, saya sendiri sedang berjuang agar tidak runtuh.

Pada suatu hari, saya mengendarai sepeda motor menjauh dari keramaian. Mencari tempat yang sepi.

Tidak ada orang.

Tidak ada keluarga.

Tidak ada siapa-siapa.

Saya berhenti dan akhirnya berteriak sekuat tenaga.

Bukan karena marah.

Bukan karena kecewa kepada keluarga.

Hanya sedang berusaha mengeluarkan semua beban yang selama ini saya simpan.

Dalam hati saya berdoa:

“Ya Allah, kuatkan saya. Saya hanya ingin adik saya selesai kuliah. Saya hanya ingin Bapak dan Mama sehat. Saya hanya ingin keluarga saya baik-baik saja.”

Setelah itu, saya kembali.

Nina kemudian kembali ke Ternate untuk melanjutkan kuliahnya.

Perjuangan harus terus berjalan.

Satu Per Satu Tahapan Dilewati

Setelah melewati masa sakit dan berbagai persoalan keluarga, Nina kembali fokus pada kuliahnya.

Semester demi semester ia jalani.

Kemudian tibalah masa PPL.

Setelah PPL hingga tahapan lainnya, Nina mulai mengurus proposal penelitian.

Ia mencari judul, menyusun proposal, melakukan penelitian, hingga akhirnya menyelesaikan skripsi.

Bagi orang lain, mungkin proses itu terlihat biasa.

Tetapi bagi kami, setiap tahapan yang berhasil dilalui Nina terasa sangat berarti.

Di Sanana, istri saya sering menjadi orang yang paling cemas menunggu kabar perkembangan skripsi Nina.

Kami terus bertanya.

Kami terus menunggu.

Kami terus berdoa.

Hingga akhirnya, satu per satu tahapan akademik itu berhasil dilewati Nina.

Sampai pada akhirnya, ia dinyatakan siap mengikuti wisuda.

Ketika kabar wisuda semakin dekat, kami kembali melakukan hal yang sudah sering kami lakukan sejak awal:

menabung.

Dulu kami menabung untuk biaya keberangkatan kuliah.

Kemudian untuk kebutuhan kos.

Untuk semester.

Untuk makanan dan kebutuhan sehari-hari.

Kini kami menabung untuk satu momen yang selama ini kami tunggu:

wisuda Nina.

Saya, istri, Mama, Bapak, dan keluarga kemudian berangkat ke Ternate.

Dua keponakan (anak dari adik kedua), juga ikut bersama kami.

Kami datang bukan dengan kemewahan.

Kami datang membawa doa dan rasa syukur.

Kami datang membawa seluruh cerita perjuangan keluarga.

Dan akhirnya, hari itu tiba.

Sabtu, 5 September 2026.

Di Muara Hotel, Kota Ternate.

Saya melihat Nina mengenakan toga.

Ketika prosesi wisuda berlangsung dan tali toga dipindahkan dari kiri ke kanan, hati saya terasa penuh.

Saya teringat semuanya.

Saya teringat pesan WhatsApp Nina:

“Kak, beta belum bisa mendaftar kuliah?”

Saya teringat jawaban saya:

“Nanti kalau sudah cukup uang baru berangkat kuliah.”

Saya teringat Mama yang berkali-kali bertanya:

“Fari, Nina belum bisa mendaftar kuliah?”

Saya teringat uang yang kami kumpulkan sedikit demi sedikit.

Saya teringat perjalanan dari kampung.

Saya teringat ketika Nina jatuh sakit.

Saya teringat malam ketika saya tidak bisa tidur.

Saya teringat ketika Bapak sakit.

Saya teringat saat pergi seorang diri dan berteriak untuk mengeluarkan beban yang tidak mampu saya ceritakan kepada siapa pun.

Saya teringat adik yang pergi mencari pekerjaan.

Saya teringat kos.

Saya teringat uang semester.

Saya teringat PPL.

Saya teringat proposal.

Saya teringat penelitian.

Saya teringat skripsi.

Semua kenangan itu seakan hadir bersamaan di depan mata.

Dan pagi itu, kami melihat Nina berdiri sebagai seorang sarjana.

Anak yang dulu harus menunggu hampir dua tahun untuk kuliah.

Anak yang pernah bekerja sambil menunggu kesempatan.

Anak yang pernah sakit di tengah perjuangan.

Anak yang pernah kami khawatirkan.

Kini telah menyelesaikan pendidikannya.

Dalam hati saya berkata:

“Nina, akhirnya kamu pulang membawa ijazah.”

Bukan Akhir, Melainkan Awal

Nina, gelar sarjana bukanlah akhir dari perjalanan.

Ini adalah awal dari kehidupan yang baru.

Ilmu yang telah kamu dapatkan jangan hanya menjadi kebanggaan pribadi.

Gunakan ilmu itu untuk bekerja, berkarya, membantu keluarga, dan memberi manfaat kepada masyarakat.

Jangan pernah merasa lebih tinggi karena memiliki gelar.

Sebab, gelar hanyalah sebuah tanda bahwa satu tahapan telah berhasil dilewati.

Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu itu digunakan setelah seseorang meninggalkan bangku kuliah.

Ingatlah selalu dari mana kamu berasal.

Ingat Mama dan Bapak.

Ingat saudara-saudaramu.

Ingat orang-orang yang pernah membantu ketika kamu berada dalam kesulitan.

Dan ingat perjuangan panjang yang telah membawa kamu sampai ke titik ini.

Dulu saya berkata:

“Nina, kita orang susah. Sampai di sana kuliah baik-baik. Jangan lupa pulang bawa ijazah.”

Hari ini, kalimat itu telah terjawab.

Kamu sudah pulang membawa ijazah.

Sekarang, pesan Kaka berubah menjadi satu kalimat:

“Nina, jangan lupa pulang membawa manfaat untuk banyak orang.”

Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang berdiri.

Tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang mampu ia tinggalkan bagi orang lain.

 

Cerita ini, penulis hanya merefleksikan kembali perjalanan penuh doa, air mata, dan pengorbanan hingga akhirnya sebuah harapan menemukan jalannya.

Tinggalkan komentar