Oleh: Asi Iksan
Aku masih terlalu kecil ketika mama pergi. Terlalu kecil untuk memahami arti duka, tapi cukup besar untuk merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tak akan pernah kembali. Yang kuingat dari mama hanyalah kepingan-kepingan kecil seperti potongan film yang sering muncul di kepalaku.
Suara lembutnya saat menimangku di sore hari, aroma bedak bayi bercampur minyak telon yang selalu menenangkan, dan nyanyian pelan yang dulu membuatku tertidur tanpa mimpi. Kadang aku bisa mendengar kembali suaranya di antara desir angin, seolah ia masih berbisik di telingaku, “Tidurlah, Nak. Dunia ini luas, tapi kau tak perlu takut.”
Hari itu dunia terasa berbeda, hari di mana mama meninggalkan ku dan ketiga saudaraku. Di mana dia pergi tanpa berpamitan. Aku tak menyadari kepergiannya, dia pergi di depan mataku, aku tidak pernah menyadari dia pergi untuk selamanya. Di kalah itu banyak orang yang ada di dekatnya tetapi tidak ada yang menyadari kepergiannya, dia pergi tanpa memberitahu semuanya, tanpa berpamitan.
Tidak ada yang menyadari kepergiannya di kalah itu. Aku mendekatinya, kupegang tangannya, rasanya aneh, seperti ada yang hilang. Tangan yang setiap kupegang selalu hangat, tetapi ini berbeda — rasanya dingin, seperti tidak ada lagi energi di dalamnya. Ku mulai bertanya kepada papa, “Papa, kenapa tangan mama terasa dingin?” Papa pun merasa ada yang berbeda. Dia mulai memeriksa mama di kalah itu, semua orang berdekatan penasaran apa yang terjadi. Papa terdiam lama lalu berbicara dengan suara yang bergetar, “Dia sudah pergi meninggalkan kita semua.” Semua orang mulai menangis dan berteriak memanggil namanya. Aku terdiam sejenak dan memandang wajahnya, air mataku menetes satu per satu. Aku mulai menangis kencang sambil memanggil namanya, “Mama,” dengan suara lirih.
Orang mulai berdatangan di kalah itu. Siang pun berganti malam, malam berganti pagi. Jenazahnya dibawa ke kampung papaku untuk dimakamkan di sana. Kami melewati lautan hingga sampai ke tujuan. Ambulans sudah menunggu di jembatan kalah itu untuk menyambut jenazah mama. Tubuhnya diangkat dan dinaikkan ke ambulans, aku pun ikut naik ke dalamnya. Ambulans itu membawa kami ke kampung halaman papaku. Saat sampai, mataku tertuju ke rumah itu. Banyak orang berdatangan untuk berbelasungkawa.
Rumah terasa sunyi, terlalu sunyi untuk ukuran pagi. Tak ada suara panci dari dapur, tak ada langkah mama yang biasa bergegas menyiapkan sarapan. Aku bangun dan mencari-cari, memanggilnya pelan, “Mama?” Tak ada jawaban. Yang kudapati hanya papa duduk di ruang tamu, wajahnya pucat, matanya merah, dan banyak orang berdatangan. Mereka menatapku dengan pandangan yang tak kumengerti, campuran iba dan kesedihan. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi, tapi aku tahu sesuatu telah berubah.
Aku bertanya, “Papa, kenapa mama meninggalkan ku?” Papa memelukku erat. Pelukannya kaku, penuh air mata yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Dan di situ, di pelukan yang terasa dingin itu, aku menangis tanpa tahu kenapa.
Hari-hari setelah itu berjalan pelan seperti bayangan panjang di sore hari. Rumah tak lagi sama. Bau masakan mama menghilang, suara tawa lenyap dari dinding. Seprai tempat tidur mama masih ada, tapi aromanya makin pudar setiap hari. Aku sering menatap fotonya, mencoba mengingat bagaimana rasanya disentuh tangannya, tapi ingatan itu semakin samar. Aku sering menunggu di depan pintu saat senja, berharap ia datang dan membawa makanan kesukaanku. Kadang aku menatap jalan di depan rumah sampai malam jatuh, lalu menangis diam-diam karena mama tak kunjung muncul.
Ketika aku mulai bersekolah, setiap kali ada acara “Hari Ibu”, aku tak tahu harus menulis surat untuk siapa. Guru memintaku menulis puisi tentang ibu, dan aku pun mulai menulisnya. Kutulis setiap bait dengan hati-hati, kubuat sebaik mungkin. Satu garis mungkin terlalu panjang, sambil kuingat semua tentangnya — senyuman manisnya, suara merdunya. Tapi dalam pikiranku, itu adalah definisi yang paling indah. Aku tumbuh, meski tanpa bimbingan tangan yang dulu selalu menghapus air mataku.
Papa mencoba menjadi segalanya, tapi aku tahu, ada ruang di hatinya yang juga kosong. Kadang aku mendengar ia menangis pelan di kamar, menyebut nama mama dalam doa. Aku pura-pura tidak tahu. Kami sama-sama belajar menanggung rindu dalam diam. Semakin dewasa, aku belajar bahwa kehilangan bukan sekadar tak lagi melihat seseorang. Kehilangan adalah ketika kau masih ingin bercerita, tapi tak ada lagi telinga yang mendengarkan. Ketika kau berhasil, dan satu-satunya orang yang ingin kau peluk sudah tidak ada di dunia.
Namun aku juga belajar sesuatu: cinta seorang mama tidak berhenti di hari kematiannya. Ia menjelma menjadi keberanian ketika aku takut. Ia hadir dalam setiap langkah kecil menuju masa depan. Dalam setiap kesalahan yang kucoba perbaiki, aku bisa mendengar suaranya membisik, “Tidak apa-apa, Nak. Yang penting kau belajar.”
Ketika aku tumbuh remaja dan menghadapi dunia yang sering terasa keras, aku sering berbicara sendiri di kamar, seolah mama duduk di sampingku. Aku menceritakan semua: nilai-nilai sekolah, teman-teman, ketakutan, dan mimpi-mimpi kecil. Dan anehnya, aku selalu merasa sedikit lebih tenang setelah itu. Sekarang aku sudah dewasa. Sudah lama aku tak memanggil nama ibu dengan suara lantang, tapi di dalam hati, namanya selalu menjadi doa pertama yang kupanjatkan setiap malam. Kadang aku masih menatap langit dan mencari-cari bentuk wajahnya di antara awan. Aku tahu itu hanya khayalan, tapi di sana aku bisa merasa dekat lagi dengannya.
Aku tidak lagi menunggu di depan pintu seperti dulu. Aku tahu, mama tidak akan datang lewat jalan itu. Tapi aku percaya, ia hadir dengan cara lain, dalam setiap keberanianku bangun di pagi hari, dalam setiap keputusan baik yang kuambil, dalam setiap doa yang kuucapkan untuk orang lain. Rasa kehilangan itu tak pernah benar-benar hilang, tapi kini ia berubah menjadi cahaya lembut.
Cahaya yang menuntunku untuk tetap berjalan, walau sendiri. Dan setiap kali hujan turun perlahan, aku akan duduk di dekat jendela, memejamkan mata, dan berbisik:
“Ma, aku sudah besar sekarang. Tapi aku tetap anak kecilmu yang dulu kau timang. Terima kasih sudah mencintaiku begitu dalam, bahkan dari tempat yang tak bisa lagi kusentuh.”
*Penulis adalah Pegiat PILAS Institute























