Dek Fahri,
Ada saat-saat di mana seorang kakak tidak punya pilihan selain berbicara dengan ketajaman sebagaimana besi ditempa api. Bukan untuk melukai, tetapi untuk membentuk. Dalam hidup, tidak semua nasihat harus disampaikan dengan suara lembut—kadang, seseorang memerlukan hentakan yang membuatnya berhenti, menoleh ke belakang, dan menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil bukan hanya hasil dari kecerdasannya, melainkan juga hasil dari pengorbanan orang-orang yang jarang ia pikirkan. Tulisan ini bukan sekadar pesan. Ini adalah cermin, cambuk, dan sekaligus doa.
Perjalananmu mencapai gelar akademik adalah kebanggaan bagi keluarga. Namun kebanggaan bukanlah tiket untuk berubah menjadi seseorang yang lupa diri. Gelar bukan alasan untuk meninggi. Dunia akademik tidak pernah menjamin keluhuran budi, dan justru sering kali menjadi tempat seseorang diuji: apakah ilmunya menambah kebijaksanaan, atau justru menambah kesombongan?.
Pengorbanan yang Tidak Pernah Tercatat
Ingat, Dek Fahri—setiap hari sejak matahari terbit hingga tenggelam, orang tua kita bekerja tanpa henti. Tidak ada yang glamor dari kehidupan mereka. Tidak ada kemeja rapi atau sepatu mengilap. Yang ada hanyalah pakaian yang warnanya pudar, kadang robek, kadang penuh noda tanah, kadang lembap oleh keringat yang asin. Namun mereka tetap memakainya tanpa mengeluh.
Mereka bukan orang yang hidup dari pekerjaan bermeja kaca dan ber-AC. Mereka menghidupi keluarga dari perjuangan yang tidak pernah terekam kamera. Dari tangan yang retak-retak. Dari punggung yang lama-lama melengkung karena terlalu sering memikul beban. Mereka tidak pernah meminta diberi hormat, tetapi mereka layak dihormati.
Setiap rupiah yang mereka kumpulkan adalah hasil dari kerja keras yang tidak pernah mewah. Dan dari sana, pendidikanmu dibiayai. Tidak ada satu pun lembar biaya kuliahmu yang lahir dari kemudahan. Itu semua berasal dari keringat dan pengorbanan yang tidak pernah mereka pamerkan.
Makanya, jangan pernah merasa tinggi, Dek Fahri. Orang tua kita tidak pernah meminta gelar darimu; yang mereka harapkan adalah tingginya akhlakmu.
Ilmu yang Sejati Bukan Tentang Gelar
Saya meminjam pemikiran para filsuf Islam bukan untuk membuat tulisan ini tampak indah, tetapi untuk mengingatkan bahwa perjalanan moral manusia jauh lebih panjang daripada perjalanan akademiknya.
Murtadha Muthahhari dalam Man and Faith (1971) menegaskan bahwa manusia tidak mencapai kemuliaan melalui pencapaian luar, tetapi melalui kesadaran batin tentang asal-usulnya. Seseorang dapat berdiri di podium kehormatan, tetapi hatinya bisa ambruk jika ia lupa siapa yang membesarkannya.
Kemudian, Ibn Sina dalam The Book of Salvation (1927 edition) mengatakan, ilmu sejati tidak pernah menimbulkan kesombongan. Justru ketika seseorang mulai sombong, itulah tanda bahwa ia belum memahami hakikat ilmu sama sekali. Ilmu seharusnya membimbing, bukan meninggikan.
Sementara, Ibn Miskawaih, melalui Tahdzīb al-Akhlāq (1934 edition), mengingatkan ujian moral terbesar seseorang bukan pada masa ia berada di bawah, tetapi ketika ia diberi peluang untuk menyombongkan diri. Dalam posisi itulah terlihat apakah hatinya lapang atau sempit.
Selain Ibn Miskawaih, Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin (1939 edition) juga memberi pukulan paling keras: bahwa orang yang mengumpulkan ilmu tanpa adab bagaikan seseorang yang membawa beban tanpa arah. Berat, tetapi tidak bermanfaat.
Coba pikirkan itu, Dek. Apakah gelar yang kamu dapatkan akan menjadi cahaya atau hanya menjadi hiasan kosong? Apakah kamu ingin menjadi orang berilmu atau hanya orang yang memiliki ijazah?
Kehormatan yang Tidak Dibeli oleh Gelar
Di kampung kita (Kabau dan Paratina), perubahan sikap orang-orang disana lebih cepat menyebar daripada kabar panen. Mereka melihat, menilai, dan menyimpulkan. Tidak perlu banyak bicara; satu perubahan kecil sikap bisa menjadi bisik-bisik panjang di teras rumah dan di kebun.
Jika kamu pulang ke Kampung dengan sikap angkuh, dengan bahasa tubuh yang tinggi, dengan cara bicara yang seolah-olah kamu lebih pantas dihormati karena gelarmu—orang-orang akan tahu. Mereka tidak akan bilang apa-apa di depanmu. Tetapi mereka akan menggeleng pelan, merasa sedih, dan berkata dalam hati: “Sayang sekali, ilmunya tinggi, tapi akhlaknya turun.”
Dan yang paling sedih bukan mereka. Yang paling sedih adalah keluarga maupun orang tua kita. Tidak ada yang lebih menyayat bagi mereka selain melihat anak-anaknya menjadi sombong setelah bertahun-tahun mereka memikul beban untuk membuatnya sekolah.
Sungguh, Dek, jangan buat mereka menunduk bukan karena bangga, tetapi karena kecewa.
Pencapaian Bukan di Podium Wisuda
Pencapaianmu adalah awal dari pendakian yang lebih panjang. Dunia yang kamu masuki sekarang bukan lagi dunia mahasiswa. Kamu akan menghadapi orang-orang yang lebih tua, lebih berpengalaman, dan lebih bijak—sering kali tanpa memiliki gelar setinggi milikmu. Di sinilah kerendahan hati akan diuji.
Muthahhari pernah menulis bahwa mengalahkan ego adalah puncak tertinggi manusia. Ibn Sina menambahkan bahwa kemuliaan seseorang terlihat dari cara ia menyikapi kesempatannya untuk sombong. Ibn Miskawaih menyatakan bahwa jiwa kuat adalah jiwa yang mampu menahan diri dari perasaan lebih baik dari orang lain. Dan Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu tanpa akhlak adalah kehampaan.
Maka, puncakmu bukan pada saat kamu diwisuda. Puncakmu adalah ketika kamu tetap rendah hati ketika kamu sebenarnya punya ruang untuk meninggi.
Jangan Jadi Gelar yang Berdiri Sendiri
Saya menulis ini bukan karena saya tidak bangga padamu. Saya bangga—lebih dari yang mungkin kamu kira. Tetapi kebanggaan seorang kakak tidak cukup hanya dirayakan. Ia harus dijaga dengan pengingat. Dengan teguran. Dengan nasihat yang mungkin terasa keras, tetapi perlu.
Keluarga tidak menuntut kamu menjadi pejabat tinggi. Mereka hanya berharap kamu tidak menjadi seseorang yang lupa diri. Jangan buat gelarmu menjadi jarak antara kamu dan mereka. Jangan buat ilmu menjadi alasan untuk memandang rendah orang lain. Jadilah orang yang berpendidikan dan beradab, bukan berpendidikan tetapi arogan.
Jika kamu menjaga itu, maka hidupmu akan berjalan dengan berkah. Jika tidak, maka dunia sendiri yang akan menghajar, dengan cara yang sering kali jauh lebih keras daripada nasihat saya.
Tulisan ini adalah tamparan di wajahmu, juga doa yang menyamar. Doa agar kamu tetap menjadi manusia yang merunduk meski berdiri di tempat tinggi. Doa agar ilmu yang kamu peroleh menjadi penerang, bukan penutup mata hati. Doa agar kamu tidak lupa bahwa gelar hanyalah pakaian; adab adalah tubuhnya.
Ingat, Dek, pakaian bisa diganti. Tetapi tubuh yang rusak karena kesombongan sulit diperbaiki.
Semoga tulisan ini menggugah. Jika terasa seperti tamparan, itu karena saya menulisnya dengan cinta yang tidak ingin melihatmu tersesat. (*)





























