Menu

Mode Gelap
Jemaah Haji Asal Sula Tutup Usia di Makkah, Bupati Fifian Sampaikan Duka Jemaah Haji Asal Kepulauan Sula Wafat di Tanah Suci Temui Langsung Masa Aksi, Kapolres Sula Pilih Dialog Terbuka Menjawab Tuntutan GMNI, Polres Sula Beberkan Dasar Penerbitan SP3 Kasus Narkotika HUT Sula Ke-23, Bupati Fifian Berbagi Rezeki dengan Anak Yatim Bupati Sula Pantau Penyembelihan Hewan Kurban di Sejumlah Titik Kota Sanana

Opini

Caffe dan Jejak Intelektual

badge-check


Foto: M. Haltim Mandar. (doc: karikatur) Perbesar

Foto: M. Haltim Mandar. (doc: karikatur)

Oleh: M. Haltim Mandar
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Ummu

Pada akhir abad ke-17, kopi mulai memasuki Eropa dan menjadi minuman yang sangat disukai, hampir menyaingi wine. Di Paris pada tahun 1690-an, seorang bernama Francesco Procopio asal Italia membuka sebuah cafe yang kemudian menjadi tempat berkumpul bagi seniman dan intelektual. Sejak tahun 1724, anak Procopio melanjutkan usaha tersebut, dan cafe ini menjadi lokasi diskusi mengenai politik, sosial, dan seni.

Beberapa tokoh terkenal seperti Voltaire, Robespierre, hingga Napoleon Bonaparte pernah menghabiskan waktu di sana. Diskusi-diskusi yang berlangsung di cafe-cafe ini melahirkan kritik terhadap raja Louis XVI dan sistem monarki absolut yang lemah. Memasuki pertengahan abad ke-18, jumlah kafe di Prancis semakin meningkat, yang mendorong penyebaran ide-ide revolusi dengan cepat. Pada tahun 1789, Revolusi Prancis terjadi, menggulingkan Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette. Dari revolusi ini lahirlah konsep pemerintahan modern yang kita kenal sebagai trias politica, yang membagi kekuasaan menjadi eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Dampak kopi tidak hanya terasa di Prancis. Di Jerman pada abad ke-18, kopi mulai menyaingi bir, yang memicu kontroversi budaya. Di Inggris, cafe juga berfungsi sebagai tempat pertemuan politik, sehingga Raja Charles II pernah menutup kedai kopi pada tahun 1675 karena dianggap sebagai lokasi pengacau. Ide-ide yang muncul di cafe tersebut menjadi pemicu Revolusi Prancis yang pecah pada tahun 1789, menciptakan catatan sejarah bagaimana kopi berkontribusi pada revolusi tersebut. Kopi lebih dari sekadar minuman; ia menjadi penggerak pertemuan intelektual yang mendorong terjadinya perubahan besar dalam politik di Eropa, dan jejaknya masih terasa hingga saat ini.

Di Indonesia, kopi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama berabad-abad. Sejak abad ke-17, kopi mulai masuk ke Nusantara lewat jalur perdagangan rempah dan kolonialisme. Pada awalnya, tanaman kopi dibawa oleh VOC Belanda ke pulau-pulau seperti Jawa dan Maluku untuk dibudidayakan secara masif. Ternate, yang berada di provinsi Maluku Utara, menjadi salah satu pusat perdagangan vital pada saat itu, menjadikan kopi sebagai komoditas yang sangat terkait dengan sejarah dan budaya lokal.

Di Ternate saat ini, hadir sebuah café yang dikenal dengan nama Kedai Mambo, kedai mambo hadir tidak hanya sebagai tempat menikmati kopi, tetapi juga sebagai ruang untuk berdialog dan bertukar ide. Kedai ini menjadi tempat berkumpul bagi para intelektual muda dan masyarakat umum yang ingin mendiskusikan isu-isu penting, baik yang berkaitan dengan sejarah, budaya, maupun masalah sosial politik di Maluku Utara. Peran intelektual di Ternate, khususnya yang aktif di Kedai Mambo, sangat penting dalam menyegarkan kembali kesadaran akan sejarah dan budaya kopi sebagai bagian dari identitas lokal. Mereka juga menggunakan ruang ini untuk mengkritisi berbagai masalah di daerah, termasuk dampak pertambangan di Halmahera, ketidakmerataan pembangunan, dan pentingnya pelestarian lingkungan.

Kopi yang dulunya dibawa oleh penjajah kini telah menjadi simbol perlawanan dan kearifan lokal, khususnya ketika disajikan di kedai-kedai seperti Mambo yang menyediakan ruang untuk berpikir kritis dan berdiskusi. Dengan secangkir kopi di tangan, para intelektual dan masyarakat di Ternate menciptakan narasi baru tentang cara menjaga keseimbangan antara kemajuan serta pelestarian budaya dan lingkungan.

Cafe tidak hanya sekadar tempat untuk menikmati kopi, Ia merupakan ruang hidup bagi intelektual lokal yang berupaya menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan Maluku Utara melalui diskusi kritis, penguatan budaya, serta semangat kolaborasi, Café tidak hanya sekadar lokasi untuk menikmati minuman, namun juga merupakan tempat sosial yang telah berkontribusi signifikan dalam sejarah pemikiran dan perkembangan intelektual. Keberadaan café tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk bersantai atau berinteraksi secara sosial, tetapi juga memiliki peranan penting dalam forum diskusi-diskusi intelektual.

*Penulis adalah Mahasiswa  Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) Ternate

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga :

Sejarah Singkat Desa Paratina (Catatan Singkat Kampung Halaman)

23 Januari 2026 - 15:13 WIT

Sejarah Singkat Desa Paratina (Catatan Singkat Kampung Halaman)

Tamparan Untuk Diri Sendiri

20 November 2025 - 16:10 WIT

tamparan untuk diri sendiri

Dari Hati Seorang Adik yang Sedang Belajar Merunduk

17 November 2025 - 23:08 WIT

Dari Hati Seorang Adik yang Sedang Belajar Merunduk

Kerendahan Hati di Puncak Pencapaian

16 November 2025 - 14:16 WIT

Kerendahan Hati di Puncak Pencapaian

Perampasan Hutan, Tanah, dan Laut oleh Bangsa Asing

6 November 2025 - 14:03 WIT

Perampasan Hutan, Tanah, dan Laut oleh Bangsa Asing

“HMJ Sosiologi” Antara Harapan dan Kenyataan

6 November 2025 - 13:18 WIT

“HMJ Sosiologi” Antara Harapan dan Kenyataan

Korban Digitalisasi, Akankah Koran di Ternate Tinggal Sejarah?

13 Oktober 2025 - 17:17 WIT

Korban Digitalisasi, Akankah Koran di Ternate Tinggal Sejarah?

Krisis Ekonomi dan Doktrin Sosial

10 Oktober 2025 - 19:18 WIT

Krisis Ekonomi dan Doktrin Sosial
Trending di Opini