Oleh: Rahmat Umarama
Pegiat PILAS Institute
Di seluk-beluk rindu, ia membawa harapan ke perantauan yang jauh. Perjalanan itu menjadi satu peristiwa yang sangat melelahkan jiwa. Aku yang berasal dari Kabupaten Kepulauan Sula, tepatnya di Desa Kabau, ke Kota Ternate dengan harapan menambah pengetahuan di sebuah universitas yang sangat terkenal, yaitu Kampus Muhammadiyah.
Sewaktu proses mendaftar, Sosiologi adalah harapan terakhir yang menjadi perjalanan saya ke masa depan. Kami, angkatan 2022, berjumlah 12 orang. Kami dididik oleh dosen dan senior tentang bagaimana melakukan, bertindak, dan mampu membedakan di mana ruang untuk bercanda dan ruang untuk lebih serius.
Namun, di angkatan kami, Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi (HMJ) tidak aktif selama beberapa tahun. Entah apa alasan mengapa tidak berjalan sedemikian. Nah, kami adalah angkatan yang kembali mengaktifkan HMJ Sosiologi dengan semangat lelah dan harapan agar HMJ Sosiologi kembali aktif tanpa ada kendala apa pun.
Kini, HMJ Sosiologi periode 2024–2025 yang diketuai oleh R, awalnya menjadi satu harapan agar ke depan lebih baik dan aktif selama kepengurusan mereka. Namun, harapan itu menjadi sebuah pengkhianatan dengan janji yang tak pernah diindahkan.
Saya sendiri bingung apa alasan dan kenapa ketua serta pengurus HMJ bungkam terhadap pengambilan janji dan sumpah yang pernah mereka sampaikan waktu pelantikan dan pengucapan visi-misi: “Jika saya terpilih menjadi ketua HMJ, saya akan menyatukan kembali solidaritas teman-teman dan akan mengaktifkan agenda HMJ.”
Apakah janji adalah seni memperbudak manusia? Sumpah dan janji adalah sebuah ucapan yang kelihatan sederhana, namun ia terikat dengan jiwa kita. Lantas, kenapa tidak ada gerakan untuk menjalankan agenda Himpunan Sosiologi? Saya, yang tidak dilabelkan sebagai pengurus HMJ, turun satu langkah untuk mengurus semua hal yang seharusnya dipersiapkan oleh pengurus.
Salah satu fakta adalah ketika pengembalian mahasiswa baru Angkatan 2025 ke alam fakultas dan alam jurusan. Setiap informasi yang saya buat untuk mengadakan pertemuan guna membahas langkah atau konsep apa yang harus dibuat untuk mahasiswa baru, semua itu ibarat malam menunggu bintang. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh kepengurusan Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi (HMJ)?
Janji yang mengikis roh dari sebuah organisasi yang bernaung di internal jurusan. Kita adalah generasi yang diharapkan untuk mengembalikan roh dari HMJ, bukan memperkosanya dengan janji kotor. Bahkan, tidak ada konsep apa yang akan dibahas. Setiap pertemuan selalu ditunda dengan alasan yang tak jelas. Ruang HMJ menjadi wacana permainan tanpa konsep yang akan dibahas oleh pengurus.
Hari ini kita ketahui bersama bahwa tidak ada satu pun program yang dijalankan oleh kepengurusan kali ini. Semisal, membaca bersama, kajian tiap minggu, dan juga bedah buku. Bahkan ada saran dari Pak Yahya (Ko Yayo), “Gunakan sekret agar menjalankan agenda kajian jika ada waktu kosong.” Namun hal itu tak pernah dijalankan. Saya sendiri bingung dengan akar pemikiran mereka. Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Waktu diberikan, lantas apa?
Hal itu dianggap biasa oleh manusia yang dikatakan makhluk berpikir atau idealis. Roh HMJ dikikis oleh ketua dan pengurus, lalu diberi makan rabies berdarah dingin. Namun, tidak ada kesadaran bahwa mereka mempunyai tanggung jawab untuk menjalankan roda organisasi yang berada di dalam sebuah negara (kampus). Ruang itu menjadi candaan tidak berbobot. Mereka lupa dengan moto Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi (HMJ), yaitu “Sosiologi, kami siap berpikir.”
Apakah candaan itu yang diajarkan untuk berpikir? Jabatan dinodai oleh ketua serta pengurus tanpa kesadaran. Itulah sebabnya, seperti kata Rocky Gerung, “Pemimpin itu membaca buku, bukan membaca komik.”
Bahkan secara intelektual dan idealis, ketua HMJ periode 2024–2025 disebut gagal dalam menelan pengetahuan, gagal dalam berpikir. Melainkan internet menjadi kekuatan di setiap pembahasan. Hari ini internet mampu menjadikan seorang pemimpin sebagai budak. “Tujuan pendidikan haruslah mengembangkan kapasitas intelektual, moral, dan sosial individu secara keseluruhan.” — John Dewey.
Seorang pemimpin yang diharapkan menjadi harapan dalam sebuah rumah, ia sendiri yang menodai rumah itu dengan sebuah ilusi. Memikul jabatan tanpa beban adalah harapannya untuk membunuh HMJ tanpa suara, tanpa penindasan, dan tanpa tujuan yang pasti. Ia membawa pengaruh buruk dalam tubuh HMJ yang membutuhkan roh.
Kata seorang alumni Sosiologi, Sarfan Tidore, “Hari ini roh organisasi tidak ada. Bagaimana cara untuk mengembalikan roh organisasi itu? Yaitu menyatukan kembali roh kepada jasad.” Sebab, hal yang membuat roh dan jasad organisasi terpisah karena tidak ada kesadaran, kemandirian yang bernilai. Ruang belajar dijadikan bahan gosip, candaan, dan tawa. “Mengaku mendengar aspirasi, namun telinganya cuma buat pujian.”
Nah, kritikan dan titipan salam rindu ini saya sampaikan melalui ketikan cinta penuh pengharapan. Agar ketua lebih tegas kepada pengurus untuk kembali menjalankan agenda rutin seperti kajian, bedah buku, dan juga agenda membaca. Sebab, hari ini tidak ada kepekaan dan kesadaran secara organik di dalam tubuh Himpunan Mahasiswa Jurusan Sosiologi (HMJ).
Catatan cinta kecil ini kembali saya sampaikan dengan penuh harapan, sebab fakta mengatakan tidak ada kesadaran secara organik. Sebab teori tanpa tindakan dan banyak berbicara hanyalah ilusi. Harapan saya, kepengurusan kali ini lebih serius untuk mengambil satu tindakan dalam jabatan.
Diam itu bukan solusi untuk menang, melainkan kritik adalah solusi dari semua itu. Jika mereka diam dan tidak punya kesadaran, sebab cinta butuh bukti, bukan berdiam diri dan terjebak di balik ilusi.
Kapan kita menjadi pelaku sebagai seorang mahasiswa Sosiologi? Acapkali kita gagal menempatkan teori kesadaran dan solidaritas. Berhenti mengaku sebagai pelaku sosial yang tak mampu mempraktikkan kembali teori tindakan sosial yang menguntungkan orang banyak. “Membangun semangat literasi agar kita dapat membangun manusia dari tidur yang panjang.” — Malik Ibrahim.
Kritik itu sebuah seni yang harus disampaikan, sebab ia adalah perasaan dari jiwa dan pikiran.
*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP UMMU Ternate



































