BACARITAMALUT.COM — Rencana kenaikan tarif angkutan pelabuhan di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara mencuat akibat lonjakan harga BBM non subsidi jenis Dexlite yang kini menembus Rp24.150 per liter dari sebelumnya Rp14.500.
Kenaikan itu mendorong sopir merancang tarif baru dari Rp200.000 menjadi Rp230.000 per sekali angkut.
Menanggapi hal tersebut, Komisi I dan II DPRD Kepulauan Sula menggelar RDP lintas komisi, Kamis (23/4/2026), untuk meredam gejolak tarif.
Ketua Komisi I, Safrin Gailea, menegaskan pembahasan fokus pada dampak sulitnya akses BBM subsidi.
“Komisi I dan II melakukan rapat dengan Perindagkop, Dishub, penguasa (Pedagang) dan pemilik kendaraan yang beroperasi di pelabuhan Sanana. RDP kali ini menghasilkan beberapa poin kesepakatan, perlu kami informasikan bahwa rencana truk mau menaikan ongkos angkutan karena mereka kesulitan mendapatkan BBM bersubsidi, sehingga mereka menggunakan dexlite,”jelas Safrin.
DPRD kemudian menetapkan solusi dengan mengalihkan penggunaan BBM ke bio solar melalui skema distribusi di SPBU Pohea dan SPBU Waiboga.
“Perindagkop akan merekomendasikan truk-truk yang beroperasi di pelabuhan untuk mengisi solar. Misalkan truk A akan mendapatkan rekomendasi pengisian di SPBU Pohea dan truk B akan mendapatkan rekomendasi pengisian di SPBU Waiboga, supaya terakomodir semua,”ujarnya.
Politisi asal partai Nasdem itu menambahkan, dari solusi yang didapatkan melalui RDP tadi sehingga rencana pihak sopir truk yang mau menaikan harga angkutan pelabuhan tersebut tidak bisa lagi menaikan. (RED)


























