BACARITAMALUT.COM — Seorang balita berusia 2 tahun di Desa Kabau Darat, Kecamatan Sulabesi Barat, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, diduga muntah-muntah setelah mengonsumsi susu dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (5/3/2026).
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIT, tak lama setelah susu yang dibagikan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat dikonsumsi.
Balita tersebut tiba-tiba mengalami mual disertai muntah-muntah, sehingga menimbulkan kekhawatiran keluarga, kemudian langsung membawanya ke Puskesmas setempat.
Kejadian itu dibenarkan oleh seorang perempuan yang tidak mau namanya dipublish, juga merupakan tante dari balita tersebut.
“Iya benar, dia minum susu ultra warna biru yang dikasih dari MBG,” katanya.
Menurutnya, gejala muncul tidak lama setelah susu diminum.
“Setelah dia minum susu, sekitar satu jam dia langsung muntah. katong (kami,red) langsung bawa dia ke Puskesmas,” tuturnya.
Sementara itu, dokter di Puskesmas Kabau, dr. Amanda Damayanti, membenarkan bahwa balita tersebut sempat dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan.
“Benar, tadi ada seorang balita usia sekitar dua tahun lebih datang dengan keluhan muntah kurang lebih dua sampai tiga kali setelah mengonsumsi susu,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan.
Meski demikian, kondisi pasien dianggap masih stabil dan tidak menunjukkan indikasi keracunan.
“Keadaan balita secara keseluruhan masih tampak stabil, tidak ada tanda kekurangan cairan atau dehidrasi. Gejala keracunan seperti penolakan tubuh, nyeri ulu hati, maupun bising usus yang meningkat juga tidak ditemukan,” jelasnya.
Menurutnya, secara medis belum dapat dipastikan kejadian tersebut sebagai kasus keracunan.
“Kalau keracunan, biasanya tidak hanya satu orang yang mengalami keluhan yang sama. Jadi untuk kasus ini belum bisa disimpulkan demikian,” katanya.
Saat ini tenaga medis masih melakukan pemantauan terhadap keluhan muntah yang dialami anak tersebut.
“Kemungkinan karena konsumsi susu yang cukup banyak. Usianya masih sekitar dua tahun, sedangkan ukuran susu yang diminum relatif besar,” ujarnya.
Pada saat pemeriksaan, lanjut dia, pihaknya juga menemukan adanya radang tenggorokan.
“Biasanya susu ultra ketika diminum menimbulkan lendir di tenggorokan sehingga terasa tidak nyaman. Pada anak kecil kondisi itu bisa memicu muntah, terutama jika diminum berlebihan,” terangnya.
Ia juga memastikan tidak ditemukan tanda alergi pada pasien. “Jadi sementara dapat disimpulkan keluhan muntah ini kemungkinan dipicu radang tenggorokan, bukan keracunan,” katanya.
Pihak puskesmas telah memberikan obat minum dan meminta keluarga tetap memantau perkembangan kondisi balita tersebut.
“Sejauh ini masih stabil. Kami sudah berikan obat oral. Jika ada keluhan tambahan atau kondisinya memburuk, diminta segera kembali ke Puskesmas untuk penanganan lanjutan,” tambahnya.
Di sisi lain, Ahli Gizi SPPG Kabau Darat, Fitria, mengatakan pihaknya langsung mendatangi Puskesmas setelah menerima informasi terkait kejadian tersebut.
“Setelah mendapat kabar itu, kami langsung ke Puskesmas untuk memastikan kondisi balita,” ujarnya.
Dari hasil komunikasi dengan tenaga kesehatan serta keluarga, diduga muntah terjadi karena susu diminum dalam jumlah cukup banyak saat perut masih kosong.
“Kami juga sempat ke rumahnya. Neneknya menyampaikan bahwa susu diminum ketika belum makan,” jelasnya.
Ia menambahkan, biasanya susu yang dibagikan berukuran lebih kecil.
“Sebelumnya kami bagikan susu ukuran 125 ml, biasanya dua kotak. Namun stok ukuran itu habis sehingga diganti dengan kemasan 200 ml,” katanya.
Menurutnya, susu tersebut diminum sekaligus oleh balita tersebut. “Dia minum sekaligus, tidak sedikit-sedikit,” pungkasnya. (RED)


































