BACARITAMALUT.COM — Pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, kembali dikeluhkan keluarga pasien.
Kali ini, seorang pasien lanjut usia dengan tekanan darah mencapai 180 menunggu kurang lebih dua jam tanpa kejelasan tindakan lanjutan setelah menjalani pemeriksaan awal di Unit Gawat Darurat (UGD).
Keluhan itu disampaikan keluarga pasien saat ditemui sejumlah wartawan di RSUD Sanana, Selasa (15/9/2026).
Keluarga pasien mengaku membawa orang tuanya ke UGD sekitar pukul 08.00 WIT karena mengalami tekanan darah tinggi. Setelah diperiksa, tekanan darah pasien tercatat 180. Namun, keluarga mengaku tidak mendapat arahan yang jelas mengenai tahapan pelayanan berikutnya.
“Bapak saya darah tinggi, saya antarlah ke UGD. Tindakan awal itu petugas melakukan tensi, tekanan darah itu 180, kemudian mereka suruh kita daftarkan melalui BPJS,” ungkap keluarga pasien.
Menurutnya, setelah proses awal tersebut, mereka menunggu tindakan selanjutnya. Namun hingga kurang lebih dua jam, tidak ada pelayanan lanjutan yang diterima pasien.
“Kami menunggu kira-kira tindakan selanjutnya apa, namun mereka tidak ada tindakan selanjutnya hingga dua jam lebih. Kami datang tadi sekitar jam 8 pagi,” katanya.
Karena tidak mendapat kepastian, keluarga kemudian mempertanyakan kepada petugas. Dari situlah mereka baru mengetahui bahwa pasien sebelumnya telah diarahkan untuk mendapatkan pelayanan di poliklinik karena dinilai bukan pasien gawat darurat.
“Setelah saya tanyakan itu, barulah mereka sampaikan kepada kami bahwa tadi sudah dikasih tahu ke Dokter Ivan dan dia menyampaikan bahwa itu bukan pasien darurat, jadi arahkan ke ruang poliklinik kemudian daftarkan,” ujarnya.
Lanjut keluarga pasien, saat tiba di ruang poliklinik, pelayanan tersebut telah ditutup sehingga mereka harus mengambil nomor antrean terakhir.
“Hanya saja mereka (petugas) di UGD ini tidak arahkan kami ke ruang poliklinik, padahal dokter sudah kasih tahu ke mereka sebelumnya. Karena itu kami sendiri tidak tahu,” keluhnya.
“Setelah kami ke Poliklinik, ternyata pelayanan di Poliklinik sudah tutup. Jadi kami sampaikan ke petugas bahwa kami sudah datang dari pagi. Meskipun sudah tutup, kasih saja kami nomor antrean. Makanya saat ini kami dapat nomor antrean terakhir,” sambungnya.
Kondisi pasien yang tidak mampu berdiri membuat persoalan antrean semakin berat. Pasien tetap menunggu di UGD, sementara anggota keluarganya harus mengantre sendiri di poliklinik.
“Bapak saya tidak bisa berdiri, makanya bapak tunggu di UGD dan saya antri di ruang Poliklinik,” katanya.
Ia menilai persoalan tersebut semestinya tidak terjadi jika petugas memberikan informasi secara jelas sejak awal.
“Kalau petugas kasih tahu dari awal, setelah tensi datang tadi berarti tentu kami akan mengambil nomor antrean. Tapi inikan tidak,” tegasnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Plt Kepala Seksi Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUD Sanana, dr. Ika, menyebut persoalan itu sebagai miskomunikasi antara petugas dan keluarga pasien.
Ia menjelaskan, RSUD Sanana membedakan pelayanan gawat darurat dan non-gawat darurat. Pasien dengan kondisi gawat darurat ditangani di UGD, sedangkan pasien non-gawat darurat diarahkan ke poliklinik.
“Jadi kita di UGD ini ada dua pelayanan, yakni yang pertama adalah pelayanan gawat darurat dan non-gawat darurat. Kalau pelayanan gawat darurat ini langsung di UGD, sementara non-gawat darurat ini di poliklinik,” jelas dr. Ika.
Menurutnya, masyarakat terkadang memilih datang ke UGD karena menginginkan pelayanan lebih cepat, meskipun kondisi pasien seharusnya ditangani melalui poliklinik.
“Terkadang masyarakat mau pelayanan lebih cepat, mereka langsung ke UGD. Karena kalau di poliklinik berarti harus didaftarkan dulu, kemudian antre menunggu dokter dari ruangan,” katanya.
Setelah melakukan konfirmasi kepada petugas UGD, dr. Ika menyatakan tidak adanya pelayanan lanjutan selama menunggu lebih dari dua jam terjadi karena informasi yang disebut tidak tersampaikan antaranggota keluarga.
“Jadi setelah saya konfirmasi ke petugas di bagian UGD terkait permasalahan tadi, ini hanya soal miskomunikasi saja,” ujarnya.
Ia mengatakan petugas sebelumnya telah menyampaikan informasi kepada anggota keluarga perempuan pasien. Namun informasi tersebut disebut tidak diteruskan kepada anak laki-laki pasien yang kemudian kembali menanyakan kondisi orang tuanya kepada petugas.
“Petugas sudah sampaikan ke anak perempuan pasien, tapi keluarga perempuan itu tidak menyampaikan ke kakak laki-lakinya, makanya kakaknya tidak tahu,” jelasnya.
Dr. Ika memastikan pasien telah didaftarkan di poliklinik dan sementara masih menunggu di UGD hingga mendapat giliran pemeriksaan oleh dr. Ivan.
Pihaknya juga meminta masyarakat menyampaikan keluhan melalui kanal pengaduan SILARAS yang tersedia di sudut-sudut RSUD Sanana agar setiap persoalan pelayanan dapat segera diklarifikasi.
“Jadi saya minta terkait dengan komplain terkait layanan itu silakan saja langsung ke SILARAS, karena kami mempunyai media aduan biar kami bisa langsung klarifikasi,” tandasnya. (RED)










