Menu

Mode Gelap
Pansus LKPJ Dibentuk, DPRD Sula Siap RDP dan Turun Lapangan Sat Polairud Polres Sula Bongkar Penyelundupan Barang Haram di Longboat DPRD Sula Gelar Paripurna Penyampaian LKPJ 2025, Ini Capaian Pemda Seorang Warga Kepulauan Sula Nyaris Tewas Diterkam Buaya Cegah Macet Pagi, Satlantas Polres Sula Gelar Strong Point di Titik Rawan KONI Sula Bentuk Tim Seleksi Porprov 2026, Jaring Atlet Tanpa Titipan

Cerpen

Sosok Perempuan di Selatan Café

badge-check


Foto: Muh Haltim Mandar. (doc: istimewa) Perbesar

Foto: Muh Haltim Mandar. (doc: istimewa)

Sebuah Refleksi Perihal Suara, Ide, dan Masa Depan

Oleh: Muh Haltim Mandar
Ketua Umum KPM-Gotowasi

Malam itu, jam menunjukkan pukul sebelas tepat. Di sebuah sudut selatan café yang mulai sepi, hanya tersisa beberapa meja yang masih terisi oleh mereka yang menolak pulang lebih awal. Lampu-lampu temaram menciptakan suasana hangat, namun juga penuh ruang untuk renungan. Di sanalah aku bertemu dengannya — seorang perempuan yang kelak mengubah pandanganku tentang banyak hal: kebudayaan, peran perempuan, dan masa depan.

Ia datang dengan langkah tenang, namun matanya menyala dengan semangat yang sulit diabaikan. Bahkan di kedua bola matanya terdapat puisi yang tidak akan pernah habis untuk aku tulis dan lukis, karena bola matanya adalah organ tercantik yang pernah alam semesta ciptakan. Dan pada saat kami mulai berbincang, suasana café seolah larut dalam kata-katanya. Dengan tangan yang bergerak penuh ekspresi, ia membicarakan tentang pengantar kebudayaan, tentang bagaimana manusia membangun identitasnya melalui simbol, nilai, dan tradisi. Ia menjelaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi medan perjuangan yang hidup, tempat ide-ide saling bertarung dan berevolusi.

Di situlah aku tertarik untuk menulis tentang sosok perempuan yang lebih rumit dari filsafat, bahkan lebih misterius dari tasawuf — yang berbicara tentang sebuah refleksi perihal suara, ide, dan masa depan. Aku tertegun melihat caranya berbicara. Kata-katanya bukan hafalan dari buku teks, melainkan lahir dari pergulatan batin yang panjang. Ia mengatakan bahwa perempuan selama ini sering kali hanya menjadi objek dalam narasi besar kebudayaan patriarki.

“Lihat saja,” katanya sambil menatap keluar jendela, “bahkan dalam cerita rakyat, perempuan sering hanya digambarkan sebagai pelengkap, bukan penentu.” Ia lalu tersenyum tipis, “padahal, kebudayaan itu tidak akan utuh tanpa suara perempuan.”

Kami lalu berbicara panjang lebar tentang patriarki. Baginya, patriarki bukan hanya soal dominasi laki-laki atas perempuan, tetapi sistem nilai yang menanamkan rasa inferior dalam diri perempuan sejak dini — melalui bahasa, pendidikan, bahkan cara berpakaian. Ia mengkritik bagaimana masyarakat sering kali menilai perempuan berdasarkan jenis kelaminnya, bukan pada gagasannya.

“Kita selalu diajarkan untuk menjadi baik,” ujarnya pelan, “tapi jarang diajarkan untuk menjadi berani.”

Yang menarik, meski topiknya berat, cara ia berbicara tidak pernah membuatku bosan. Setiap gerakan tangannya seperti tanda baca yang hidup — menegaskan, menolak, dan mengundang refleksi. Ia tidak sedang menggurui, tapi mengajak berpikir bersama. Di antara kepulan kopi yang mulai mendingin, aku merasa sedang berada di kelas filsafat yang paling jujur — ruang di mana ide-ide tumbuh dari pengalaman hidup, bukan sekadar teori.

Ketika malam semakin larut, pembicaraan kami beralih pada hal yang lebih konkret: rencana bisnis ke depan. Ia menatapku serius, lalu berkata bahwa membangun bisnis di era sekarang tak bisa lepas dari kesadaran sosial dan budaya.

“Bisnis bukan hanya tentang laba,” ujarnya, “tapi juga tentang dampak — tentang bagaimana kita memberi ruang bagi perempuan untuk tumbuh tanpa harus kehilangan jati dirinya.”

Kami mendiskusikan konsep bisnis yang tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga membawa nilai keberlanjutan dan keadilan. Ia berbicara tentang socio-enterprise, tentang pentingnya empati dalam kepemimpinan, dan tentang bagaimana dunia usaha bisa menjadi ruang perlawanan terhadap nilai-nilai patriarki yang mengekang. Aku mulai menyadari bahwa baginya, bisnis bukan sekadar jalan menuju kemandirian ekonomi, tetapi juga bentuk pernyataan politik — cara untuk menegaskan eksistensi perempuan dalam ruang publik.

Jam terus berjalan, hingga suara sendok dan cangkir menjadi satu-satunya musik yang tersisa. Malam itu aku pulang dengan kepala penuh gagasan dan hati yang hangat. Perempuan itu bukan sekadar sosok yang cerdas, tapi juga berani — berani melawan arus, berani mempertanyakan, berani bermimpi.

Pertemuan kami di selatan café pada pukul sebelas malam mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi percakapannya terus menggema hingga kini. Ia mengajarkanku bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari dialog kecil — dari keberanian seseorang untuk berbicara, menggerakkan tangan, dan menyalakan semangat di tengah gelap malam. Sosok perempuan yang kukenal di selatan café bukan hanya seorang pemimpi, tetapi juga pengingat bahwa kritik paling radikal bisa lahir dari ruang sekecil meja kopi. Bahwa pembebasan bukan ide besar yang abstrak, tetapi tindakan konkret dari keberanian untuk berpikir berbeda. (**)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga :

Di Pangkuan Kenangan

29 Oktober 2025 - 21:06 WIT

Di pangkuan kenangan

Tinta dari Keringat dan Air Mata

30 April 2025 - 20:06 WIT

Tinta dari Keringat dan Air Mata Persembahan untuk Papa dan Mama di Hari Buruh

Malam 21 Ramadhan di JS Coffee: Ngopi Sambil Diskusi

21 Maret 2025 - 00:06 WIT

Malam 21 Ramadhan di JS Coffee: Ngopi Sambil Diskusi

Perasaan yang Terpendam

19 Januari 2025 - 17:31 WIT

Taman Wansosa Jadi Saksi

1 Januari 2025 - 07:53 WIT

Trending di Cerpen