SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Example 420x400
Example 420x400
Cerpen

Perasaan yang Terpendam

103
×

Perasaan yang Terpendam

Sebarkan artikel ini

NAMANYA EVHY. Aku bertemu dengannya pada malam tahun baru, 1 Januari 2025, di Taman Wansosa. Malam itu, di tengah gemerlap kembang api dan keramaian orang-orang, ada sesuatu dalam dirinya yang langsung menarik perhatianku.

Senyumannya, caranya bicara, semuanya terasa begitu memikat. Namun setelah malam itu, kami kehilangan kontak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Example 320x200

Hari ini, Minggu, 19 Januari 2025, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal masuk ke ponselku. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengangkatnya.

“Halo, ini siapa ya?” tanyaku, sedikit heran.

“Ini Evhy,” jawab suara lembut dari seberang telepon. “Yang waktu itu kita ketemu di malam tahun baru, di Taman Wansosa.”

Deg! Hatiku bergetar. Suara itu begitu familiar, begitu aku rindukan. Aku hampir tidak percaya mendengar namanya.

“Evhy? Serius ini kamu?”

Dia tertawa kecil, dan aku bisa membayangkan senyum itu muncul di wajahnya. “Iya, aku. Kamu ada waktu hari ini? Aku ingin ketemu. Jam 4 sore, di Taman Mangon. Gimana?”

Tanpa pikir panjang, aku langsung menyetujuinya. “Oke, aku ke sana.”

Sore itu, dengan motor Beat Street kesayanganku, aku melaju dengan cepat menuju Taman Mangon. Ada perasaan campur aduk di dalam dada—antusias, gugup, dan bahagia.

Sesampainya di sana, aku melihatnya duduk sendiri di bawah patung Muhammad Hatta. Di depannya, ada dua gelas Es Teh Poci yang sudah disiapkan. Aku berhenti sejenak, mengambil napas dalam-dalam, lalu berjalan menghampirinya.

Baca Juga : Taman Wansosa Jadi Saksi

“Evhy,” panggilku pelan. Dia menoleh dan tersenyum hangat. Senyum itu… ya, senyum yang membuatku jatuh hati sejak malam tahun baru itu.

Kami mulai berbicara, mengenang pertemuan kami sebelumnya, lalu melanjutkan dengan cerita-cerita ringan. Tapi jujur saja, pikiranku tidak fokus. Hatiku terus berdetak kencang. Ada sesuatu yang ingin kukatakan, sesuatu yang sudah terlalu lama terpendam.

Namun, saat aku hendak mengatakannya, kata-kata itu terhenti di tenggorokanku. Aku menatap matanya yang jernih, dan entah kenapa, aku merasa begitu gugup.

“Kenapa kamu diam?” tanya Evhy, dengan nada yang sedikit menggoda.

Aku hanya tersenyum canggung. “Tidak, aku cuma… senang bisa ketemu kamu lagi.”

Dia tersenyum, dan itu membuatku merasa sedikit lebih tenang.

Sore itu berlalu begitu cepat. Ketika matahari mulai tenggelam, aku sadar aku harus segera mengambil keputusan. Aku tidak ingin menyesal karena menyimpan perasaanku lebih lama.

“Evhy,” panggilku pelan.

Dia menoleh, menatapku dengan matanya yang berbinar. “Iya?”

Aku menarik napas dalam-dalam. “Aku… sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan sejak malam kita bertemu. Aku suka sama kamu.”

Wajahnya berubah seketika. Ada sedikit keterkejutan di matanya, tapi kemudian dia tersenyum lagi. Senyum yang tidak bisa kutebak apa artinya.

Dia menatapku sejenak, lalu berkata, “Aku senang kamu jujur sama perasaanmu.”

Malam itu, meski belum ada jawaban pasti darinya, aku merasa langkah pertamaku sudah diambil. Dan siapa yang tahu? Mungkin ini adalah awal dari cerita panjang kami berdua.

Sanana, 19 Januari 2025

Example 400x100
Example 400x100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *