BACARITAMALUT.COM — Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara, mulai mengincar nilai tambah melalui hilirisasi komoditas pertanian, khususnya kakao dan jambu mente. Langkah berani ini menjadi taruhan besar Pemda Sula untuk membangkitkan ekonomi rakyat.
Wakil Bupati (Wabup) Kepulauan Sula, H. Saleh Marasabessy, mengatakan, hilirisasi menjadi langkah strategis untuk memulihkan sektor perkebunan yang sempat jatuh akibat serangan hama pada masa lalu.
“Daerah kita memang memiliki komoditas unggulan di sektor perkebunan. Dulu kita gagal karena hama kakao yang menyerang pada tahun 1984. Insya Allah, saat ini kita bangkit lagi,” ujarnya saat diwawancarai awak media usai kegiatan Gerakan Tanam Cabai (Gertam Cabai) oleh TP-PKK, Selasa (28/10/2025).
Menurut Wabup, kondisi geografis Kepulauan Sula yang didominasi wilayah pegunungan membuat daerah ini lebih cocok mengembangkan komoditas perkebunan. Namun, sektor hortikultura juga menjadi perhatian untuk mewujudkan kemandirian pangan lokal. “Kita tetap genjot usaha hortikultura agar kemandirian pangan bisa tercipta di Sula,” tuturnya.
Ia menambahkan, bila sektor perkebunan dan hortikultura dikembangkan secara seimbang, maka akan memberi dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Kalau masyarakat mendukung dan punya pengetahuan yang baik tentang hortikultura, Insya Allah pendapatan mereka akan meningkat. Kuncinya ada pada perubahan mindset agar mau berusaha,” katanya.
Saat ini, Bupati Kepulauan Sula tengah menyiapkan sekitar 50 ribu bibit kakao untuk pengembangan perkebunan di daerah tersebut.
“Mudah-mudahan ini menjadi pendorong agar Sula bisa bangkit lagi seperti tahun 1984. Saat itu, Sula adalah penghasil kakao tertinggi di Maluku Utara,” ujarnya.
Selain itu, Pemda juga mulai menyasar sektor industri pengolahan lokal agar nilai tambah tidak lari ke luar daerah. “Kita harap ke depan, bahan baku tidak lagi kita datangkan dari luar, tapi dari hasil kita sendiri. Kakao yang dibudidayakan dengan baik bisa menghasilkan dalam tiga tahun,” jelas Saleh.
Tak hanya kakao, potensi besar juga datang dari jambu mente. Menurutnya, jika diolah dengan baik, komoditas ini bisa memberikan keuntungan berlipat.
“Selama ini jambu mente glondongan hanya dijual Rp10 ribu per kilogram. Tapi kalau diolah menjadi kacang mente grade A, bisa mencapai Rp100 ribu per kilogram. Nilai tambahnya mencapai 300 persen,” terangnya.
Ia menegaskan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Perindagkop) harus segera bergerak masuk ke sektor pengolahan.
“Sektor pengolahan ini sangat menjanjikan. Nilai tambahnya rata-rata di atas 100 persen. Inilah yang bisa benar-benar mengubah pendapatan masyarakat,” tutupnya. (RED)

































