SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Example 420x400
Example 420x400
Opini

Hegemoni Duniawi: Belajar Dari Bulan Ramadhan

119
×

Hegemoni Duniawi: Belajar Dari Bulan Ramadhan

Sebarkan artikel ini
ramadhan
Foto: Mohtar Umasugi, Akademisi STAI Babussalam Sula

Oleh: Mohtar Umasugi, Akademisi STAI Babussalam Sula

Bulan Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum refleksi sosial yang mendalam. Ia mengajarkan kesederhanaan, ketahanan diri, dan kebebasan dari dominasi hawa nafsu serta hegemoni duniawi. Dalam kehidupan modern yang dipenuhi dengan kontrol kapitalisme, politik oligarki, dan dominasi budaya konsumtif, Ramadhan hadir sebagai sarana perlawanan terhadap hegemoni dalam berbagai bentuknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Example 320x200

Dalam perspektif Islam, salah satu bentuk hegemoni yang paling berbahaya adalah dominasi hawa nafsu atas akal dan hati manusia. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa manusia yang tidak mampu mengendalikan nafsunya akan menjadi budak dunia. Ia akan terus terjebak dalam keserakahan tanpa batas, baik dalam bentuk kekayaan, kekuasaan, maupun kemewahan hidup.

Di era modern, kapitalisme global telah menciptakan budaya konsumtif yang menjadikan manusia sebagai objek eksploitasi pasar. Di bulan Ramadhan, fenomena ini sering terlihat dalam perilaku konsumsi yang berlebihan. Ironisnya, bulan yang seharusnya menjadi momen menahan diri justru dijadikan ajang pesta konsumsi dengan lonjakan harga makanan, belanja besar-besaran, dan gaya hidup mewah yang bertentangan dengan esensi puasa.

Dalam Fiqh al-Shiyam, Syaikh Yusuf Al-Qaradawi menekankan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari sifat berlebihan dan boros. Jika hakikat puasa benar-benar diamalkan, maka Ramadhan seharusnya menjadi ajang melawan hegemoni budaya konsumtif dan menumbuhkan kesadaran hidup sederhana.

Baca Juga : Harga Bapok di Kepsul Naik, Akademisi Soroti Peran Pemerintah

Selain hegemoni nafsu, dunia juga dipenuhi dengan hegemoni politik dan ekonomi yang menguntungkan segelintir orang. Para penguasa yang korup sering kali menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan dominasinya, termasuk melalui kebijakan yang menindas rakyat kecil.

Ramadhan mengajarkan nilai kesetaraan dan keadilan sosial. Rasulullah Saw dalam hadisnya bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad)

Puasa mengajarkan para pemimpin untuk merasakan penderitaan rakyat, memahami esensi keadilan, dan menjauhi kesewenang-wenangan. Umar bin Khattab, misalnya, dikenal selalu ikut merasakan lapar bersama rakyatnya sebagai bentuk empati dan tanggung jawab kepemimpinan. Jika pemimpin hari ini menghayati nilai-nilai Ramadhan, maka mereka akan lebih peduli terhadap kesejahteraan rakyat, bukan sekadar mempertahankan kekuasaan demi kepentingan pribadi atau kelompok.

Hegemoni lain yang tidak kalah berbahaya adalah dominasi budaya asing yang mengikis nilai-nilai Islam dalam kehidupan umat Muslim. Dalam dunia global yang semakin terhubung, budaya liberalisme dan sekularisme sering kali dipaksakan sebagai standar kehidupan modern. Akibatnya, banyak umat Islam yang kehilangan jati diri dan mengikuti arus globalisasi tanpa filter yang jelas.

Ramadhan mengajarkan umat Islam untuk kembali kepada nilai-nilai Islam yang otentik. Dalam Western Muslims and The Future of Islam, Prof. Tariq Ramadan menekankan bahwa Muslim harus mampu menjadi subjek aktif dalam peradaban dunia, bukan sekadar objek yang mengikuti arus globalisasi tanpa arah. Ramadhan menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Islam yang mengutamakan moralitas, solidaritas, dan ketahanan budaya.

Dari berbagai bentuk hegemoni yang telah disebutkan, Ramadhan mengajarkan umat Islam untuk melakukan perlawanan, baik dalam skala individu maupun sosial. Puasa adalah bentuk jihad melawan diri sendiri (jihad al-nafs), menahan godaan dunia, dan membangun karakter yang kuat.

Secara sosial, Ramadhan juga menjadi momentum membangun solidaritas dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Zakat fitrah, infak, dan sedekah mengajarkan bahwa kesejahteraan harus dibangun dengan prinsip kebersamaan, bukan eksploitasi segelintir orang atas yang lain. Jika semangat ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam akan memiliki ketahanan sosial yang kuat dalam menghadapi berbagai bentuk dominasi.

Ramadhan bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga momentum perlawanan terhadap berbagai bentuk hegemoni duniawi—baik yang datang dari hawa nafsu, sistem politik dan ekonomi yang menindas, maupun budaya asing yang menggerus nilai Islam. Jika nilai-nilai Ramadhan benar-benar dihayati, maka umat Islam akan menjadi pribadi yang merdeka, tidak mudah tunduk pada godaan dunia, dan siap memperjuangkan keadilan di tengah masyarakat.

Sebagaimana dikatakan oleh Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, “Orang yang tidak bisa mengendalikan dirinya akan diperbudak oleh hawa nafsunya.” Maka, apakah kita telah menjadikan Ramadhan sebagai ajang pembebasan diri dan perlawanan terhadap berbagai bentuk hegemoni duniawi yang melatari..?

Wallahu a’lam bish-shawab

*Penulis adalah Akademisi STAI Babussalam Sula, Maluku Utara

Example 400x100
Example 400x100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *