BACARITAMALUT.COM — Tradisi Gabalil Hai Sua (GHS) 2026 mendapat perhatian dari putra daerah Kepulauan Sula, Maluku Utara, yang kini menetap di Semarang, Jawa Tengah, Idrus Umarama.
Advokat dan praktisi hukum itu mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kepulauan Sula agar memberi perhatian serius terhadap keberlangsungan tradisi budaya tersebut.
Hal itu disampaikan Idrus setelah mengetahui sebanyak 310 peserta mengikuti ritual jalan kaki menapaki jalur bersejarah dari Benteng De Verwachting, Sanana.
Menurut Idrus, Gabalil Hai Sua bukan sekadar agenda tahunan, melainkan cerminan nilai-nilai budaya masyarakat Sula yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Dari jauh, saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia dan seluruh peserta. Kalian bukan sekadar berjalan, tetapi sedang merawat jiwa Kesulaan, sesuatu yang tak ternilai,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Ia menilai tradisi tersebut memiliki nilai penting karena memadukan pelestarian budaya, penguatan kebersamaan, serta manfaat kesehatan jasmani dan rohani.
Karena itu, Idrus berharap pemerintah daerah dapat mengambil langkah konkret melalui dukungan anggaran, perlindungan hukum, dan penetapan resmi sebagai agenda budaya tahunan.
“Ini investasi sosial, budaya, dan kesehatan. Pemerintah harus hadir nyata bukan hanya merestui, tetapi juga melindungi dan mengembangkan,” tegasnya.
Ia juga mengusulkan agar Gabalil Hai Sua diperjuangkan menjadi warisan budaya yang diakui secara nasional agar keberadaannya tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
“Semoga suatu saat dunia mengenal Sula bukan hanya dari petanya, tetapi dari langkahnya, dari tradisi agung bernama Gabalil Hai Sua,” tutupnya. (RED)

























