Oleh: Mohtar Umasugi, Koordinator Presidium KAHMI Kepulauan Sula
“Mari kita menulis, bukan sekadar untuk hari ini, tetapi untuk masa depan!”
DALAM setiap peradaban besar, tulisan selalu menjadi jejak yang mengabadikan pemikiran, gagasan, dan perjuangan suatu generasi. Para cendekiawan, pemikir, dan pejuang perubahan memahami bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan warisan intelektual yang dapat bertahan melampaui zaman. Sebagai alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), saya meyakini bahwa menulis bukan hanya keterampilan, tetapi juga tanggung jawab moral bagi kaum intelektual dalam merawat dan meneruskan pemikiran kritis untuk peradaban.
Sejarah mencatat bahwa perubahan besar dalam peradaban manusia tidak lepas dari tulisan. Kita mengenal Ibn Khaldun bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi karena Muqaddimah-nya. Kita mengagumi Soekarno bukan hanya karena pidatonya, tetapi juga karena tulisan-tulisannya yang menggugah kesadaran bangsa. Begitu pula dengan Nurcholish Madjid dan Dawam Rahardjo serta tokoh-tokoh lainnya yang pemikirannya terus menginspirasi, karena mereka tidak hanya berbicara, tetapi juga menulis.
Di era digital saat ini, tulisan semakin mudah diakses dan menyebar luas. Namun, di tengah gempuran informasi instan, kita menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan bahwa yang kita tulis tidak sekadar menjadi konsumsi sesaat, tetapi benar-benar membangun kesadaran dan memberi dampak jangka panjang bagi generasi mendatang?
Sebagai alumni HMI, kita memiliki warisan intelektual yang kaya. HMI bukan sekadar organisasi mahasiswa, tetapi juga kawah candradimuka bagi pemikiran kritis, ide-ide progresif, dan kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan kebangsaan. Namun, jika hanya berhenti di forum diskusi dan aksi di lapangan, tanpa menuangkannya dalam bentuk tulisan, maka pemikiran kita akan cepat menguap dan sulit diwariskan.
Baca Juga : Pentingnya Perempuan Berpendidikan
Maka, menulis harus menjadi bagian dari tradisi yang terus kita rawat. Tulisan-tulisan kita dapat menjadi rujukan bagi generasi mendatang dalam memahami persoalan bangsa, menawarkan solusi, dan mengawal proses demokrasi serta pembangunan. Dengan menulis, kita tidak hanya sekadar eksis, tetapi juga mengukir sejarah dalam dunia pemikiran dan perjuangan.
Menulis bukan hanya soal berbagi gagasan, tetapi juga soal keberanian dalam mengambil posisi intelektual. Tulisan adalah manifestasi dari sejauh mana kita berpikir, menganalisis, dan mengambil sikap atas realitas yang kita hadapi. Dalam konteks ini, kita perlu mengembangkan tiga hal utama:
- Kepekaan terhadap Realitas – Menjadi intelektual yang peka terhadap isu sosial, politik, ekonomi, dan budaya, serta memiliki kesadaran kritis untuk menafsirkan fenomena yang terjadi.
- Kedalaman Analisis – Menulis tidak sekadar opini dangkal, tetapi harus didukung oleh data, referensi yang kuat, dan argumentasi yang logis.
- Keberanian dalam Menyuarakan Kebenaran – Seorang penulis harus memiliki keberanian untuk membela nilai-nilai kebenaran dan keadilan, meskipun berhadapan dengan berbagai tantangan.
Tulisan yang baik bukan hanya dinikmati, tetapi juga mampu menggerakkan pembacanya untuk bertindak. Ia bisa menjadi inspirasi bagi aktivis, rujukan bagi akademisi, dan pemantik diskusi bagi masyarakat luas. Dengan menulis, kita ikut membangun kesadaran kolektif dan merawat optimisme bahwa perubahan selalu mungkin terjadi.
Sebagai alumni HMI, sudah saatnya kita tidak hanya menjadi pembaca sejarah, tetapi juga penulis sejarah. Menjadikan tulisan sebagai warisan intelektual bukan hanya pilihan, tetapi juga tanggung jawab kita sebagai kaum terpelajar. Dengan menulis, kita memastikan bahwa gagasan kita tidak berhenti di ruang diskusi, tetapi terus hidup dan menginspirasi generasi mendatang.
Semoga…!
*Penulis Adalah Koordinator Presidium KAHMI Kepulauan Sula