Oleh : Fahri Hamza Aufat
ADA SEBUAH KISAH tentang seorang musafir yang berasal dari Kepulauan Sula. Sebelum berangkat, ia mendengar pesan dari kakaknya: “Musafir, kota lapar, dan peradaban.” Pesan ini menyentuh hatinya dan menimbulkan rasa penasaran. Apa sebenarnya makna di balik kata-kata itu? Dalam konteks ini, musafir bukan hanya seseorang yang melakukan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin untuk mencari ilmu dan pengetahuan. Dengan keterbatasan di daerah asalnya, ia memutuskan melanjutkan studi ke Kota Ternate, dan menolak tawaran Papa yang menyuruh berkuliah disalah satu perguruan tinggi terbaik yang ada di Sula. Kota Ternate, sebagai kota yang lebih maju, memberinya peluang untuk memperdalam pengetahuan.
Setibanya di Ternate, sang musafir melihat perbedaan yang mencolok antara kota ini dan kampung halamannya. Pesan kakaknya tentang “kota lapar” menjadi lebih jelas. “Lapar” di sini tidak hanya merujuk pada kelaparan fisik, tetapi juga kelaparan akan ilmu pengetahuan. Di Ternate, banyak tersedia fasilitas pendidikan, perpustakaan, dan toko buku yang mudah diakses masyarakat. Sebaliknya, di Kepulauan Sula, akses terhadap sumber daya literasi sangat terbatas, menciptakan ketimpangan besar dalam pendidikan. Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun suatu kota tampak maju secara fisik, belum tentu ia berkembang dalam hal peradaban dan ilmu pengetahuan.
Peradaban, dalam makna luas, adalah ukuran kemajuan masyarakat yang tidak hanya ditentukan oleh pembangunan ekonomi atau infrastruktur, tetapi juga oleh sejauh mana masyarakat memiliki akses terhadap pendidikan dan informasi.
Di tengah kemajuan zaman, ada satu hal yang sering dilupakan: pentingnya akses pendidikan yang merata untuk semua lapisan masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil. Kisah sang musafir dari Kepulauan Sula menuju Ternate adalah gambaran nyata tentang kesenjangan pendidikan antara daerah yang sudah berkembang dan daerah yang masih tertinggal. Pesan “Musafir, kota lapar, dan peradaban” mengandung makna mendalam yang seharusnya menjadi perhatian bersama.
Baca Juga : Menjemput Tahun Baru 2025: Surat Cinta untuk Kepulauan Sula
Kabupaten Kepulauan Sula menghadapi tantangan besar dalam sektor pendidikan. Terbatasnya fasilitas seperti perpustakaan, buku, dan bahan bacaan lain membuat masyarakat sulit mengakses pengetahuan. Sebaliknya, Kota Ternate memiliki berbagai kemudahan yang memungkinkan warganya belajar dan berkembang. Dalam konteks ini, “lapar” pengetahuan yang dialami masyarakat Sula menjadi penghalang utama untuk membangun peradaban yang lebih baik.
Ketimpangan ini mencerminkan realitas yang dihadapi banyak daerah di Indonesia. Kota-kota besar mungkin menikmati kemajuan pendidikan, sementara daerah terpencil sering tertinggal jauh. Ketidakmerataan ini menghambat masyarakat di daerah terpencil untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, baik secara sosial, ekonomi, maupun budaya.
Untuk menghadapi tantangan ini, pendidikan harus menjadi prioritas pembangunan. Peradaban sejati tidak hanya diukur dari kemajuan fisik, tetapi dari seberapa baik masyarakat dapat mengakses ilmu pengetahuan secara merata. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah membangun perpustakaan modern, memperbanyak akses buku, dan menyediakan sumber daya pendidikan lainnya di daerah-daerah terpencil.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula harus lebih serius menangani sektor pendidikan. Fasilitas seperti perpustakaan harus dibangun, tidak hanya di pusat kota, tetapi juga di daerah-daerah terpencil. Kolaborasi dengan penerbit dan penulis lokal maupun nasional dapat membantu menyediakan buku yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Selain itu, program literasi digital harus diperkenalkan untuk mengajarkan masyarakat memanfaatkan teknologi dalam mencari ilmu pengetahuan.
Pendidikan bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang membuka jendela dunia. Seperti yang dikatakan C.S. Lewis, “Kita membaca untuk mengetahui bahwa kita tidak sendirian.” Melalui buku dan pendidikan, kita dapat mengatasi rasa lapar pengetahuan, menghubungkan diri dengan dunia yang lebih luas, dan membangun peradaban yang maju serta sejahtera.
Sebagai generasi muda, kita memiliki tanggung jawab untuk mendukung upaya pemerataan pendidikan. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula harus memahami bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga soal pengembangan sumber daya manusia. Dengan memberikan akses pendidikan yang merata, kita dapat menciptakan masyarakat yang tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga kaya dalam pengetahuan dan pemahaman. Sebab, tanpa pendidikan yang merata, peradaban kita tidak akan pernah mencapai potensinya yang terbaik.
Penulis adalah Direktur PILAS Institut